Halaman

Tampilkan postingan dengan label Kelas Nulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelas Nulis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juli 2020

Mengenal Penulisan Artikel Jurnal Bersama Ika Pasca Dosen Universitas Bengkulu dan Blogger Bengkulu

Assalammualaikum Wr.Wb

Halo apa kabar sahabat Milda sekalian. Kali ini saya ingin berbagi materi keren yang disampaikan oleh salah satu anggota Blogger Bengkulu. Ibu dosen di Universitas Bengkulu, Ika Pasca Himawati. Beliau akan membahas ‘Mengenal Penulisan Jurnal’

Yuk, kita langsung mulai saja. Kelas ini dilakukan pada setiap kamis siang, sekitar jam dua siang hingga selesai. Harusnya satu jam saja tapi kadang molor. Biasalah namanya juga kelas online, iya kan!

Kita persilakan ibu Dosen yang sudah menikah dan punya satu orang putra ini untuk memulai, saya hanya membuka dan mengkondisikan grup saja.

Selamat siang rekan-rekan semuanya, semoga semuanya dalam kondisi baik dan sehat. Alhamdulilah, makasih kepada Mbak Milda selaku Founder BOBE (Blogger Bengkulu) yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk sharing pengalaman. 

Kangen kegiatan outdoor kayak gini bersama BoBe, so obatin dengan kelas online saja
Terimakasih juga kepada rekan-rekan di grup ini yang telah berkenan menyimak. Perkenalkan sebelumnya, saya Ika Pasca Himawati, rekan-rekan bisa memanggil saya Ika, domisili di Kota Bengkulu, tepatnya di Lingkar Timur. Aktivitas harian saya sebagai Ibu, istri sekaligus pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bengkulu. Tepatnya jurusan Sosiologi.

Nah, menariknya jurusan saya ini seringkali tertukar dengan psikologi. Banyak orang yang beranggapan psikologi dengan sosiologi itu sama. Padahal kajiannya berbeda, Cuma induknya sama yakni filsafat. 

Kalau psikologi lebih menekankan pada aspek manusia dengan pengalaman serta mental pribadinya. Sedangkan sosiologi lebih menekankan pada aspek interaksi sosial yang terjadi antara satu orang dengan orang lain atau dengan kelompok. 

Belajar sosiologi akan memberikan banyak sudut pandang yang beragam dalam melihat suatu masalah sosial. Sehingga kita nggak dengan mudah menghakimi sesuatu. Perilaku yang dilakukan oleh seseorang jelas dilatarbelakangi oleh pengetahuan dan pengalaman yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Hehehe, sekalian promosi jurusan.

Gedung Rektorat Universitas Bengkulu, tempat suamiku nyari duit juga, hahaha. Soure RadarKampusDotCom

Terkait dengan tema kali ini berkaitan dengan kampus dan new normal. Namun pada kesempatan ini izinkan saya untuk sharing sedikit banyak tentang Jurnal beserta pengelolaan Jurnal itu sendiri nantinya. Kalau untuk situasi kampus di pandemi saat ini, aktivitas belajar mengajar memang dilakukan secara daring, baik menggunakan whatsapp, e-learning unib, zoom meeting, google meet maupun aplikasi lainnya yang relevan.Untuk semester depan, unib akan menerapkan blended learning. Namun teknisnya akan dibahas kemudian berdasarkan kebijakan universitas.


KKN saat ini pun juga dilakukan secara mandiri, kebetulan saya dan Ibu Julia ( ini anggota BoBe juga) menjadi dosen pengampu lapangan pada KKN Mandiri periode kali ini. KKN Mandiri dilakukan secara individu dan dilakukan dikediaman masing-masing. Mereka umumnya melakukan aktivitas yang memungkinkan dilakukan dirumah, seperti pembuatan masker, pembuatan video, menjadi relawan dll.

Jadi, bayangan untuk berkumpul dengan masyarakat, begadang larut malam bersama teman-teman KKN lainnya, tidak terjadi pada periode kali ini. Namun, para mahasiswa insyallah tetap bersemangat.

Nah, lanjut masuk ke tema yang saya maksudkan, tentang Jurnal beserta pengelolaan

Rekan-rekan yang tengah dan sudah menyelesaikan studi S1 tentu sangat familiar dengan istilah jurnal. Kalau tugas dan skripsi, dosen seringkali meminta kita untuk mencari jurnal sebagai bahan referensi. Jurnal merupakan kumpulan dari tulisan yang disebut artikel ilmiah pada bidang keilmuan tertentu. Jadi dalam satu jurnal bisa terdiri dari beberapa artikel ilmiah yang ditulis sendiri atau beberapa orang penulis sekaligus.

Dalam menulis artikel ilmiah ini dasarnya ya penelitian dan refleksi kritis atas sesuatu, yang mana kemudian hasil dari penelitian tersebut dituangkan ke dalam tulisan. Ketika di perguruan tinggi, menulis artikel ilmiah dalam jurnal menjadi semacam kewajiban, dengan begitu, ilmu pengetahuan akan berkembang karena ada penelitian dan pemikiran baru yang dipublikasikan melalui jurnal.

Sehingga dapat dibaca dan dikembangkan lagi oleh orang lain. Selain itu, menulis artikel ilmiah menjadi kewajiban para pengajar (dosen) di perguruan tinggi. Di samping mengembangkan keilmuan, juga menjadi prasyarat kenaikan jenjang karir. Apalagi yang ingin menjadi Profesor atau guru besar.

Untuk jurnal sendiri juga ada peringkatnya, atau istilahnya akreditasinya. Di Indonesia, yang memberikan peringkat adalah Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia (KEMENRISTEKDIKTI) yang dulu menaungi perguruan tinggi. Sekarang sudah menyatu, sehingga perguruan tinggi dibawah  Kemendikbud. 

Peringkat tersebut disebut SINTA yakni singkatan dari Science and Technology Index. 

Nah, kalau ARJUNA (Akreditasi Jurnal Nasional) menjadi mekanisme sistem dalam proses pemberian peringkat yang disebut SINTA tadi.

Jadi peringkat tertinggi pada jurnal disebut SINTA 1 dan peringkat terendah disebut SINTA 6. Semakin baik kualitas tulisan dalam jurnal tersebut, maka peringkatnya juga akan semakin mendekati SINTA 1. Karena peringkat ini didasarkan dari substansi dan manajemen pengelolaan jurnal itu sendiri. 

Kebetulan, saat ini saya mendapatkan amanah sebagai editor di Jurnal Sosiologi Nusantara atau yang disingkat JSN dengan alamat link : https://ejournal.unib.ac.id/index.php/jsn (monggo diklik)

Jurnal ini dikelola oleh Jurusan Sosiologi, FISIP UNIB dan saat ini masuk peringkat SINTA 4. Artinya berada di peringkat ke 4 berdasarkan penilaian dari Kemenristekdiktinya kala itu.  Butuh kerja keras untuk bisa naik peringkat menjadi SINTA 3 hingga SINTA 1 (doakan saja, ya temans!).

Ika di tenga, sebelah kirinya si bu guru yang juga blogger Apura Meity, ini saat kami di kampus IAIN Bengkulu
Beberapa isilah memang menggunakan kata dan nama yang ada dikisah Mahabarata , hal ini dimaksudkan agar penulisan jurnal tersebut menjadi hal yang menarik dan tidak ditakuti, hehehe.

Nah, layaknya majalah, jurnal pun ada edisi terbitnya. JSN yang saya kelola bersama tim, terbit 2 kali dalam setahun (yakni pada bulan Juni dan Desember). Dalam satu kali terbit, setidaknya minimal ada 5 naskah) yang akan dipublish. Naskah tersebut berasal dari penulis yang ada di berbagai universitas.

Para penulis yang ingin naskahnya terbit, maka harus melakukan registrasi dan submit di laman Jurnal Sosiologi Nusantara. Menariknya, artikel yang disubmit ke dalam jurnal, memang tidak bisa langsung diterima dan publish. Ada serangkaian prosedur yang harus dijalani ketika penulis submit artikel. Pertama, tim redaktur akan melihat kualitas tulisan. Bila bagus akan diterima untuk direview oleh reviewer, namun bila tidak makan langsung bisa ditolak.

Reviewer bertugas untuk membaca, mengkoreksi substansi hingga mengkritisi artikel yang masuk. Serta memberikan saran atau masukan yang harus dilakukan oleh penulis, agar tulisan menjadi lebih baik. Umumnya, artikel yang direview oleh para reviewer membutuhkan waktu bisa sekitar 2-4 minggu untuk mereview naskah artikel. 

Mengingat kesibukan dari para reviewer tersebut. Jadi wajar bila satu artikel dalam jurnal, umumnya membutuhkan waktu cukup lama, hingga 2 bulan lebih dari proses awal hingga terbit.

Jadi, misal ada tulisan artikel yang berjudul “Perubahan sosial masyarakat pada masa pandemi atau optimalisasi fungsi dan peran orang tua di masa pandemic” maka Tim Pengelola Jurnal akan memilih reviewer yang memiliki spesialisasi dan konsentrasi keilmuan yang sesuai dengan judul. 

Setelah dikoreksi, maka artikel akan dikembalikan kepada para penulis untuk diperbaiki sesuai masukan dari para reviewer. Satu naskah artikel, bisa revisi beberapa kali agar ketika publikasi, kualitas naskahnya terasa.  Termasuk dalam teknik penulisan serta penggunaan bahasa inggrisnya. 

Perlu diketahui juga, agar menghindari plagiarism, umumnya penulis dan kami pengelola akan melakukan pengecekan naskah dengan menggunakan aplikasi seperti plagiarism checker, Turnitin dan lain sebagainya

Kopdar BoBe  terakhir di tahun ini sebelum Pandemi, di bulan Maret 2020. Sebagian sudah pulang karena ini sesi yang panjang. Biasalah kalo sudah berkumpul pasti panjang dan lama di Balai Kota saat Anugerah Award Blogger Bengkulu 3
Guru Menulis Jurnal

Samahalnya dengan yang lain. Guru pun boleh dan sangat dianjurkan untuk menulis jurnal. Apalagi semua sekarang  jurnal sekarang ini serba online dan menggunakan open journal system.

Mekanismenya sama. Gurupun juga bisa memasukkan artikel ilmiah ke jurnal, selama mengikuti panduan dan aturan di jurnal yang dituju. 

Ada satu jurnal yang dibuat oleh Universitas Semarang. Nama jurnalnya, https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas.  Nah, para guru bisa menuliskan artikelnya dan submit ke jurnal tersebut

Sebenarnya yang bisa menulis ke jurnal nggak melulu akademisi, bisa juga aktivitis, guru, mahasiswa, masyarakt umum yang tetap menulis dengan kaidah ilmiah dan metodenya jelas

Kalau di keguruan kan ada yang namanya PTK kan ya? Penelitian tindakan kelas, nah itu bisa dibuat artikel dan disubmit ke Jurnal ini, nilainya cukup besar dan dapat digunakan untuk kenaikan pangkat dan karirnya

Beberapa Pertanyaan dari Blogger Bengkulu

Zefy: Bisa ikut menulis Jurnal, seperti Blogger

Jawaban : Bisa, asal mengacu pada metode ilmiah yang jelas, misalnya metodenya kuantitatif, kualitatif, kajian literature, jadi temuan atau hasil tulisannya bisa pertanggungjawabkan secara ilmiah

Tapi umumnya jadi wadah akademisi, mahasiswa, aktivis untuk menyampaikan hasil penelitian dan kajian pemikirannya

Kalau para blogger melalui blog dengan bahasa yang barangkali lebih renyah dibaca ya, hehe

Milda Ini: Ini kalo guru yang ikutan keren deh. Nanti artikel di cek sama siapa sebelum tayang

Jawaban : Sama reviewer yang merupakan pakar dibidangnya, trus sama tim editor yang akan mengoreksi kembali naskah setelah diperbaiki penulis, baru bisa publish.

Musfirah: Bagimana PTK bisa dijadikan Jurnal? Btw, tenang  penjurnalan, pernah dengar kata scofus, itu maksudnya jurnal apa ya bu?

Jawaban : Untuk PTK, yang disampaikan pada jurnal sesuai author guidelines (panduan penulisan) dari masing-masing jurnal bu. Misal : ada bab tentang latarbelakang mengapa ada PTK, Metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Pembahasan dan kesimpulan bu. Kalau Jurnal Sosiologi Nusantara fokusnya : pada isu sosial dan humaniora. Jadi, artikel yang publish fokusnya kesitu. Kalau PTK, umumnya jurnal pendidikan, seperti jurnal Komunitas dari UNNES yang saya sampaikan di link atas, jurnal pendidikan dasar (juridikdas) UNIB dan sebagainya. Bila mau lebih lengkap dalam mencari jurnal, ibu bisa klik laman berikut : http://sinta.ristekbrin.go.id/journals nanti ibu bisa cari jurnal dari SINTA 1-SINTA 6

Jawaban : Saya kutip dari wikipedia, Scopus adalah pangkalan data pustaka yang mengandung abstrak dan sitiran artikel jurnal akademik. Sifatnya lebih internasional. Scopus menghimpun jurnal yang ada di seluruh dunia dalam satu database. 

Artinya, jurnal yang saya kelola, untuk masuk ke database scopus, harus memenuhi kualifikasi tertentu, sehingga dapat diterima dan diindeks oleh scopus. Di Indonesia sendiri, dari ribuan jurnal yang dikelola, masih beberapa yang baru terindeks scopus. Karena cukup ketat. 

Nah, ketika kita sudah diterima dan terindeks scopus pun. Jurnal kita akan dirangking oleh Scopus. Mirip kayak SINTA di Indonesia. Kalau Scopus, rangkingnya disebut Q1-Q4. Tertinggi adalah Q1 dan terendah adalah Q4. Nah, akademisi sekarang memang dituntut untuk puplikasi.

Tak terasa obrolan kelas online ini berakhir, lain waktu kita sharing lagi ya Bu Ika. Termasuk dengan teman-teman yang lainnya juga. Nanti lain waktu saya share lagi dengan berbagai tema dan teman yang menarik yah.

Salam Hangat dan Sehat Selalu

Milda Ini


Sabtu, 07 Maret 2020

Seputar Puisi Haiku

Mengenal Puisi HAIKU

Haiku Jepang aslinya terdiri atas 17 suara, yang  terbagi dalam tiga frase: 5 suara, 7 suara, dan 5 suara. Pujangga Inggris mengartikannya sebagai suku kata.



Haiku sendiri muncul di akhir era Muromachi, namun berkembang saat     memasuki zaman Kinsei (disebut juga sebagai zaman Pra Modern). 

Periode ini dimulai pada tahun 1602, yakni sejak Shogun Tokugawa Ieyasu yang  berdiri sebagai pemegang kepemerintahan Jepang memindahkan pusatnya ke Edo. 

Haiku bermula dari rongga sebuah puisi berpola 5-7-5 silabel (suku kata) yang   diciptakan untuk berbalas-balas bersama lawan main seperti pantun. 

Bagian pertama haiku yang terdiri dari 5 suku kata disebut dengan ‘shougo’ atau ‘kamigo’ (上五). 

Nakashichi adalah bagian tengah yang berjumlah tujuh suku kata (中七) dan ‘shimogo’ (下五)     merupakan bagian akhir yang terdiri dari lima suku kata. 

Pola 5-7-5 ini merupakan bentuk dasar haiku. Namun, ada juga haiku yang tidak mengikuti pola tersebut.

Haiku adalah puisi tentang alam, tentang keterkaitan manusia dengan musim dan lingkungan di sekitarnya.

Objeknya adalah tentang segala sesuatu yang ada di alam. 

Bisa itu tentang hewan, tumbuhan, sungai, laut, danau, rawa, gunung, bukit, hutan, bintang, bulan, matahari.

Manusia sebagai subjek dan sekaligus objek dalam haiku. Manusia pada satu sisi, dan alam pada sisi lainnya. 

Manusia tak dapat dilepaskan dari alam, manusia menikmati alam baik itu dari sisi keindahannya maupun dari 

Sisi manfaatnya bagi pemenuhan kebutuhan atau dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya.




Berikut adalah beberapa contoh Haiku dari pujangga atau penyair Jepang ternama.


Kyoshi
 
Shizukasa ya, hanasaki niwa no, haru no ame.
 
Betapa sunyinya, halaman berbunga, hujan musim semi.

 
Masaoka Shiki

Furusato ha, itoko no Ooshi, momo no hana.

Pada kotaku, anak-anak gembira, bunga pun mekar.

 
Basho
 
Furuike ya, kawazu tobikomu, mizu no oto.
 
Di kolam tua, seekor katak melompat, air pun pecah.


Kobayashi Issa
 
Yuki to kete, mura ippai no, kodo mo kana.

Salju mencair, desa pun penuh dengan, anak-anak.

''Haiku berhubungan dengan musim. Haiku berbicara tentang alam,'' kata Myoo Aoki (75), salah satu anggota komunitas Hannya, ketika memandu kami melihat-lihat pameran haiku sebelum menyaksikan aksi mereka membuat haiku.

Aoki mengatakan orang Jepang masa lalu sangat dekat dengan alam. Karena itu, haiku selalu terinspirasi oleh keindahan alam Jepang.

Langit cerah..
Awan pekat..
Bunga Camelia seakan ingin bicara.

Aoki membacakan haiku yang berkait musim semi dimana bunga-bunga mulai bermekaran seakan-akan ingin bicara.

''Sebuah haiga, lukisan dalam haiku, bisa menambah nilai sebuah haiku,'' kata Aoki yang awalnya menggeluti dunia lukisan sebelum mendalami haiku sejak 20 tahun.




Serba-serbi HAIKU

Tidak seperti puisi Barat, haiku umumnya tidak berima

Pujangga haiku kontemporer bisa saja menulis puisi yang hanya fragmen pendek dengan tiga kata atau kurang.

Haiku berasal dari kata "haikai no renga", puisi kelompok kolaboratif yang biasanya seratus bait panjangnya. Hokku, alias bait pertama, adalah kolaborasi renga yang mengindikasikan musim sekaligus mengandung kata pemotong. Haiku sebagai bentuk puisi mandiri melanjutkan tradisi ini.

Haiku disebut puisi "tidak selesai" karena tiap haiku meminta pembaca untuk menyelesaikannya sendiri dalam hatinya.

Minggu, 22 Desember 2019

20 Naskah Terpilih Antologi Puisi dan Flash Fiction Tema Ibu Bersama Milda Ini

Assalammualaikum. Wr. Wb.

Hai apa kabar teman Milda semua. Terima kasih ya sudah ikut audisi menulis antologi puisi dan flash fiction bertemakan Ibu. Beberapa waktu lalu.

Nah, bertepatan dengan hari ibu. Yang jatuh pada tanggal 22 Desember Ini. Akan diumumkan 20 Penulis atau Judul naskah baik puisi atau flash fiction yang lolos untuk dibukukan bersama.


Kali ini buku bertemakan Ibu ini akan in sha Allah diterbitkan bersama saya ( Milda Ini) sebagai karya buku di awal tahun 2020. 

Mohon do'a restunya ya. Agar semua proses penerbitannya nanti akan berjalan dengan sukses, lancar serta buku ini bermanfaat bagi pencerahan dan inspirasi bagi banyak orang.

Berikut nama-nama penulis yang terpilih. Beserta jenis tulisan, dan judulnya.

1. Puisi
Sepenggal Dialog(ku) Bersama Ibu
Penulis Ika Pasca Himawati

2. Puisi
Judul  : Puisi Untuk Ibu
Penulis : Razita Rossaliani Raudhatul Jannah

3. Puisi
Judul : Cahaya Suci
Penulis :Emilia Febrianti

4.Puisi
Judul :Bidadari
Penulis : Salsabila Camelia

5.Puisi
Judul : Samudra Cinta Malaikatku
Penulis : Eva Safitri

6. Flash Fiction
Judul : Sepiring Cinta Ibu
Penulis :Liza Mayasari

7. Flash fiction
Judul : Kaos Kaki Mama 
Penulis : Lutfi Marsha Putra

8. Flash Fiction
Judul :
Kertas  
Penulis : Maysara Muchtar

9. Flash Fiction
Judul : Malaikatku 
Penulis : Ratna Juita

10. Puisi
Judul :Ini Desembemu
Penulis :  Indah Kurniati

11. Puisi
Judul : Kebaikan  
Penulis : Zosmi Hartati

12. Puisi
Judul : Cinta Tak Berujung Waktu 
Penulis : Ayi Septriyana


13. Flash Fiction
Judul : Burung Pipit 
Penulis :Nurul hanifah 


14. Puisi
Judul :Balada seorang ibu  
Penulis : Darwin Susianto

15.Puisi
Judul : Ibu 
Penulis : Siti Rohimah 

16. Puisi
Judul : Puisi Tentang Ibu
Penulis : Reti Suryani

17. Flash Fiction
Judul : Kulihat ibu di Matanya
Penulis : Helen Saparingga

18. Puisi
Judul : Tentang Ibuku
Penulis : Nawra Izzah Muthmainnah

19. Flash Fiction
Judul : Ayunan Tua
Penulis : Asepto

20. Puisi
Judul : Surga Tak Tergantikan
Penulis : Efri Deplin

Kamu bisa juga melihat video berikut ini



Selamat ya. Kalian memang keren. 

BERIKUT CARA KONFIRMASI PESERTA.

1. Folow akun Instagram MILDA INI. 

2. Lalu DM atau kirim pesan yang berisikan konfirmasi kalo kalian terpilih.

Nanti akan dimasukan ke grup WA agar memudahkan untuk koordinasi dan komunikasi seputar proses penerbitan buku.

DITUNGGU KONFIRMASINYA HINGGA TANGGAL 25 DESEMBER 2019. Jika tidak ada konfirmasi, maka dianggap mengundurkan diri ya. Terima kasih.

Karena hal ini penting sebab ada beberjika nanti ada proses editing dan revisi sehingga memudahkan komunikasi serta membuat buku yang akan diterbitkan ini menjadi lebih maksimal.



Sekali lagi selamat, 
Salam literasi dan tetaplah menulis.